Rumah, Obat Pereda Nyeri, dan Kunci yang Salah

Empat tahun pacaran itu rasanya kayak lagi bangun rumah. Ada pondasi yang dibangun pelan-pelan, ada atap yang dipasang dengan hati-hati agar tidak bocor saat hujan, dan ada harapan untuk tinggal di sana selamanya. Tapi ternyata, mencoba pacaran tiga hari itu kayak minum obat pereda nyeri sehabis jatuh dari motor. Dia cuma bikin mati rasa sesaat, tapi nggak pernah benar-benar menyembuhkan. Pas efek obatnya habis, sakitnya malah makin jadi karena luka aslinya nggak pernah diobati dengan benar.


Sekarang, kaki yang diperban itu jadi saksi bisu kalau alkohol nggak pernah jadi obat yang baik buat luka di hati. Alih-alih lupa sama mantan yang empat tahun itu, dia malah harus belajar cara jalan terpincang-pincang sendirian menuju kamar mandi. Tubuhnya seolah sedang memberikan peringatan keras melalui denyut di lukanya: "Kamu mau lari ke mana lagi? Kemarin mencoba lari ke alkohol saja, hasilnya berantakan begini."

Kamarnya sekarang hanya diterangi cahaya remang dari layar ponsel. Di sana, rentetan chat kasar dari si 'cowok tiga hari' terus bermunculan. Aneh memang, cowok yang cuma numpang lewat selama tujuh puluh dua jam itu mendadak merasa punya hak untuk menjadi produser film fiksi. Dia menyebarkan narasi sampah ke mana-mana, di saat si pemeran utama bahkan tidak punya tenaga untuk sekadar berangkat ke kelas untuk belajar Bahasa China. Menghafal ribuan karakter Hanzi rasanya jauh lebih mudah daripada harus menghadapi karakter asli orang yang baru dikenal tiga hari.

Dari sini kita tersadar, jangan pernah memberikan kunci hati kamu ke orang lain hanya karena kamu takut sendirian di dalam rumah yang gelap.

Nyalakan dulu lampunya. Kenali setiap sudut ruangannya. Pastikan kamu sudah merasa nyaman tinggal di sana sendirian sebelum mengundang orang lain masuk. Karena kalau kamu sendiri belum nyaman dengan dirimu, kamu hanya akan menarik orang-orang yang datang sekadar untuk bertamu, merusak suasana, lalu pergi begitu saja meninggalkan sampah untuk kamu bersihkan sendiri.

Luka di kaki mungkin akan kering, tapi yang jauh lebih penting adalah kesadaran yang muncul setelahnya: bahwa perjalanan untuk pulang ke diri sendiri tidak pernah diukur dari seberapa cepat kita menemukan orang baru untuk mengisi kekosongan. Melainkan tentang seberapa nyaman kita bisa duduk tenang di ruang tamu sendiri, tanpa merasa perlu diselamatkan oleh siapa-siapa.

.

.

.

Terinspirasi dari secuil kisah milik Meddie, aku mencoba merajutnya kembali ke dalam ruang berteduh ini. 



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar