Peron yang Salah

 


Manusia itu makhluk yang lucu. Kita punya kecenderungan yang luar biasa besar untuk menyalahkan keadaan, ketika apa yang kita tunggu tak kunjung tiba.

Sore ini, di tengah penuh sesaknya Stasiun Manggarai, tiga rangkaian kereta sudah kubiarkan berlalu. Gerbongnya terlalu penuh, Otakku dengan sigap mencari alasan yang menenangkan: "Tunggu sedikit lebih lama. Kereta berikutnya pasti lebih kosong, dan akan ada ruang untukku."

Kenyataannya, setelah waktu berlalu dan kaki mulai pegal, aku sadar satu hal. Bukan keretanya yang salah karena tak pernah memberi ruang. Kereta itu bergerak sesuai tujuan, mengangkut orang-orang yang searah dengannya.

Yang salah adalah aku. Aku yang tanpa sadar berdiri menunggu, di peron yang salah.
 
Logika dan perasaanku sekarang sedang bertengkar hebat. Terutama saat melihat caramu belakangan ini. Matamu terlalu sibuk memindai keramaian, mencari sosok yang bahkan belum jelas rupa dan tujuannya. Kamu sedang mencari siapa saja, asalkan bukan aku.
 
Anomali perasaan yang melelahkan. ketika logika sudah tidak lagi mempan dan hati menolak diajak kompromi, aku menyerahkan sisanya pada doa yang paling pragmatis.

"Tuhan, kalau memang dia bukan kereta yang searah denganku, tolong biarkan perasaan ini menguap. Tolong pudarkan ekspektasi ini perlahan. Karena sedari awal, gerbong itu memang tidak pernah menyediakan kursi kosong untukku."

Komentar