Jujur ya, setiap kali aku berdiri di dapur, aku nggak pernah yang namanya keringet dingin mikirin: “Ini masakan aku bakal se-enak buatan Chef Renatta atau malah rasanya mirip kuah rebusan sendal jepit?” Nggak. Aku sama sekali nggak peduli sama takaran garam yang kelebihan atau bawang putih yang kegosongan.
Aku justru lebih menantikan satu momen krusial: ekspresi muka orang yang bakal makan pas dia sadar masakan aku ternyata gagal total.
Bagi aku, rasa makanan itu relatif. Kayak selera komedi atau pilihan model rambut. Tapi yang aku cari sebetulnya sebuah keajaiban psikologis yang agak egois: Gimana caranya masakan aku bisa mengubah selera makan kamu, murni karena ada faktor "aku yang masak"? Kayak, kamu yang tadinya benci jengkol, tiba-tiba bilang, "Demi kamu, jengkol ini rasanya kayak wagyu A5 Jepang."
Terdengar manipulatif? Mungkin. Tapi ini bukan soal rasa, ini soal konspirasi hati.
Aku nggak peduli masakan aku enak atau nggak. Pertanyaan besar di kepala aku adalah: Apakah sebuah perasaan yang tulus bisa mengintervensi saraf pencecap di lidah seseorang?
Aku emang egois, tapi tenang, aku nggak bakal sekata-kata itu. Aku nggak bakal mencekik leher kamu dan memaksa kamu nelan masakan aku kalau emang rasanya mirip busa sabun. Aku cuma pengen satu hal: kamu mau mencoba apa yang udah aku usahakan.
Di detik kamu memutuskan buat ngambil sendok, menyendok makanan itu pelan-pelan, dan memasukkannya ke dalam mulut—boom. Di titik itu, aku udah ada di fase bangga luar biasa. Aku bakal ngeliat kamu kayak seorang ayah yang ngeliat anaknya berhasil naik sepeda roda dua tanpa jatoh. Aku bangga karena kamu menghargai usaha orang lain, karena kamu nggak menggampangkan keringat yang menetes pas aku numis bawang.
Urusan lidah kamu bakal bergetar karena keasinan, atau komentar kamu yang bilang "Ini kayaknya resep dari sekte sesat, deh", itu urusan nomor dua puluh empat. Sama sekali bukan masalah.
Yang jadi masalah utama buat aku adalah: Gimana kamu menunjukkan rasa percaya kamu untuk berani mencicipi masakan itu.
Karena pada akhirnya, hidup ini kan bukan kompetisi MasterChef, mana yang paling enak itu jadi juaranya. Tapi ini soal trust.
Kepercayaan itu fondasi paling dasar dari bagaimana kita membuka diri kepada orang lain. Konsepnya mirip kayak kamu naik pesawat. Bukan berarti kamu nggak boleh nanya soal keselamatan atau memastikan semuanya baik-baik saja. Tapi pada akhirnya, saat pintu pesawat tertutup, pesawat mulai bergerak, dan kamu memilih untuk duduk di kursimu sambil percaya bahwa perjalanan ini akan membawamu ke tujuan.
Kamu nggak bisa mengendalikan cuaca, kamu nggak ngerti mesin, dan kamu nggak kenal juga pilotnya siapa. Yang bisa kamu lakukan saat itu cuma bersandar, menarik napas, dan memberikan ruang bagi rasa percaya itu buat bekerja.
Kita coba jalani, sambil pelan-pelan mencocokkan diri. Dan kalaupun masakan aku gagal, minimal kita bisa ketawa bareng sambil mesen mie instan.
insp: bela

Komentar
Posting Komentar